Kalau dipikir-pikir, perjalanan Indonesia di turnamen ini benar-benar seperti cerita yang berawal dari ambang kegelapan lalu perlahan berubah menjadi harapan. Setelah mayoritas wakil berguguran lebih awal, banyak yang sudah pasrah dan menganggap hasil kali ini akan menjadi catatan buruk lagi bagi bulutangkis Indonesia. Namun ternyata dua wakil terakhir justru mampu membawa cerita yang sama sekali berbeda. Dari nyaris tanpa wakil di perempat final, sekarang Indonesia sudah memastikan setidaknya satu tempat di partai puncak.
Yang paling mencolok tentu penampilan Fajar/Fikri. Kemenangan atas Liang/Wang bukan sekadar kemenangan biasa. Setelah melewati game pertama yang sangat ketat dengan skor 23-21, mereka benar-benar menggila di game kedua. Skor 21-4 terasa seperti skor yang jarang terlihat di level semifinal turnamen Super 750. Memberikan skor "antartika" kepada pasangan sekelas Liang/Wang, membekukan permainan lawan sampai tidak berkutik. Dominasi seperti ini menunjukkan bahwa ketika kepercayaan diri sudah kembali, kualitas Fajar/Fikri sebenarnya masih sangat menakutkan bagi siapa pun.
Di sisi lain memang ada sedikit rasa sedih melihat langkah Alwi Farhan harus terhenti. Setelah menciptakan sensasi besar dengan menumbangkan Shi Yu Qi dan kemudian mengalahkan Kodai Naraoka, kali ini Alwi harus mengakui keunggulan Alex Lanier. Meski kalah dua game langsung, perjalanan Alwi tetap layak mendapat apresiasi tinggi. Semifinal di turnamen sebesar ini bukan pencapaian kecil, apalagi bagi pemain muda yang sebelumnya tidak banyak dijagokan. Justru dari turnamen ini publik bisa melihat bahwa Indonesia memiliki calon tunggal putra yang berani menghadapi siapa saja.
Turnamen ini seakan mengingatkan kembali bahwa masalah Indonesia mungkin bukan semata-mata soal kemampuan. Skill itu masih ada, kualitas pukulan masih ada, dan talenta juga masih tersedia. Yang sering hilang adalah keyakinan saat menghadapi pemain-pemain elite dunia. Ketika rasa percaya diri muncul, kita melihat Alwi mengalahkan ranking satu dunia dan Fajar/Fikri menghancurkan salah satu pasangan terbaik dunia dengan skor telak. Kini tinggal satu langkah lagi. Jika gelar juara berhasil diraih, maka turnamen yang awalnya tampak seperti bencana bisa berubah menjadi salah satu kisah kebangkitan paling manis bagi Indonesia musim ini.
| WS | Yamaguchi | | v | Wang Z Y | 63' 21-13 17-21 21-15 | |
| WD | Liu/Tan | v | Baek/Lee | 42' 21-16 21-10 | ||
| WS | An Se Y | v | Chen Yu F | 83' 20-22 21-12 21-15 | ||
| XD | Kap/Crasto | v | Shim/Hoba | 61' 16-21 21-17 13-21 | ||
| WD | Jia/Zhang | v | Ari/Shida | 43' 21-13 21-14 | ||
| MD | Kim/Seo | v | Red/Shetty | 50' 19-21 18-21 | ||
| XD | Math/Bøje | v | Gao/Wei | 32' 21-11 21-13 | ||
| MS | Alwi Farh | v | Alex Lanier | 47' 14-21 11-21 | ||
| MD | Fajr/Fikri | v | Liang/Wang | 37' 23-21 21-4 | ||
| MS | Loh K Y | v | K Watanabe | 63' 21-15 15-21 21-9 |
📢 Danipay: Channel Reaction Badminton Indonesia
Jangan lupa subscribe channel Danipay di YouTube untuk live reaction dan mengomentari pemain-pemain Indonesia dari semua level. Cek juga halaman Tentang Danipay buat info lengkap.
Jangan lupa subscribe channel Danipay di YouTube untuk live reaction dan mengomentari pemain-pemain Indonesia dari semua level. Cek juga halaman Tentang Danipay buat info lengkap.
0 Komentar